Dimensi Tulang Kondilus Dilihat dari Radiografi Panoramik sebagai Identifikasi Jenis Kelamin pada Mahasiswa Suku Minang Fakultas Kedokteran Gigi BaiturrahmahDimensi Tulang Kondilus Dilihat dari Radiografi Panoramik sebagai Identifikasi Jenis Kelamin pada Mahasiswa Suku Minang Fakultas Kedokteran Gigi Baiturrahmah
DOI:
https://doi.org/10.71417/galen.v2i1.190Kata Kunci:
Kondil, Antropologi Forensik, Odontologi Forensik, Radiografi Panoramik, Dimorfisme SeksualAbstrak
Abstrak penelitian ini menjelaskan bahwa Indonesia, khususnya Sumatera Barat yang rawan bencana, memerlukan identifikasi korban yang cepat dan akurat, di mana struktur mandibula yang resisten dapat dimanfaatkan melalui radiografi panoramik untuk penentuan jenis kelamin pada populasi spesifik seperti suku Minang. Penelitian ini bertujuan menggambarkan dimensi tinggi dan lebar kondilus mandibula pada radiografi panoramik sebagai dasar identifikasi jenis kelamin pada mahasiswa suku Minang usia 20–25 tahun di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah. Penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional ini menggunakan populasi 172 mahasiswa, dengan sampel 50 subjek (25 laki-laki, 25 perempuan) suku Minang dua generasi yang dipilih secara purposive. Instrumen berupa radiografi panoramik digital (Ortopantomograph Instrumentarium OC 200 D) yang dianalisis menggunakan perangkat lunak Cliniview/MicroDicom untuk mengukur tinggi dan lebar kondilus kanan dan kiri dalam satuan milimeter, kemudian data dianalisis menggunakan uji independent t-test pada taraf signifikansi α = 0,05. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata tinggi dan lebar kondilus mandibula, baik sisi kanan maupun kiri, pada laki-laki secara konsisten lebih besar dibandingkan perempuan pada rentang usia tersebut. Kesimpulannya, dimensi kondilus mandibula pada radiografi panoramik berpotensi digunakan sebagai salah satu parameter morfometrik dalam identifikasi jenis kelamin pada populasi suku Minang dalam konteks kedokteran gigi forensik.
Unduhan
Referensi
Ahira, A. (2008). Suku-suku bangsa di Indonesia. Diakses dari http://www.anneahira.com/suku-suku-bangsa-di-indonesia.htm
Al Ahmad, S. H. (2009). Forensic odontology. Smile Dental Journal, 4(1), 7–22.
Altug, H. A., & Ozkan, A. (2011). Diagnostic imaging in oral and maxillofacial pathology. In Contemporary approach to dental and maxillofacial infections (pp. 215–226). InTech.
Ananta, A., Arifin, N. E., & Sairi, M. (2014). A new classification of Indonesia’s ethnic group (Based on 2010 population census). Institute of Southeast Asian Studies.
Apriyono, D. K. (2016). Metode penentuan usia melalui gigi dalam proses identifikasi korban. DCK Journal, 43(1), 71–77.
Ardakani, F. E., Booshehri, M. Z., & Behniafar, B. (2011). Evaluation of the distortion rate of panoramic and periapical radiographs in erupted third molar inclination. Iranian Journal of Radiology, 8(1), 15–21.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2012). Menuju Indonesia tangguh menghadapi tsunami: Masterplan pengurangan risiko bencana tsunami (pp. 30–33).
Chuenchompoonut, V. M., Honda, E., Kurabayashi, T., & Sasaki, T. (2003). Accuracy of panoramic radiography in assessing the dimensions of radiolucent jaw lesions with distinct or indistinct borders. Dentomaxillofacial Radiology, 32(2), 80–86.
Haris, M. (2009). Perangkat lunak untuk proses identifikasi. Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia.
Idris, D. H. (2001). Sejarah kebudayaan Melayu di Pulau Sumatera. PGJ, 4(2), 29–35.
Jacob, T. (1967). Studi tentang variasi manusia di Indonesia. Fakultas Kedokteran UGM.
Kansil, C. S. T. (2011). Sistem pemerintahan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Khantem, V., Guttikonda, V. R., Yuri, S., & Kumari, S. (2015). Sex determination using maxillary sinus. Journal of Forensic Dental Sciences, 7(2), 136–139.
Koentjaraningrat. (1987). Manusia dan kebudayaan di Indonesia. PT Rineka Cipta.
Koentjaraningrat. (2002). Pengantar ilmu antropologi. PT Rineka Cipta.
Manja, C. D., & Xiang, L. Y. (2015). Analisis ukuran sinus maksilaris menggunakan radiografi panoramik pada mahasiswa suku Batak usia 20–30 tahun di Fakultas Kedokteran Gigi Sumatera Utara. Dentika Dental Journal, 18(2), 94–101.
Momjian, C., et al. (2011). Computerized measurement of condylar height on panoramic radiographs. [Jurnal radiologi dentomaksilofasial].
Nawira, R. (2015). Nilai rata-rata ketinggian kondilus mandibula dan ramus mandibula rahang tak bergigi dan bergigi dengan teknik pengukuran Momjian. [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga.
Oliveira, C., Bernardo, R. T., & Capelozza, A. L. A. (2009). Mandibular condyle morphology on panoramic radiographs of asymptomatic temporomandibular joints. International Journal of Dentistry, 8(3), 114–118.
Riolo, M. L., Moyers, R. E., McNamara, J. A. Jr., & Hunter, W. S. (1974). An atlas of craniofacial growth: Cephalometric standards from the University School Growth Study (Monograph 2). Center for Human Growth and Development, University of Michigan.
Singh, S. (2008). Penatalaksanaan identifikasi korban mati bencana massal. Majalah Kedokteran Nusantara, 41, 254–258.
Snell, S., & Richard. (1997). Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran (Ed. 3). EGC.
Subramaniam, P., & Naidu, P. (2010). Mandibular dimensional changes and skeletal maturity. Contemporary Clinical Dentistry, 1(4), 218–222.
Uuroge, A., & Patil, B. A. (2017). Sexual dimorphism of maxillary sinus: A morphometric analysis using cone beam computed tomography. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 11(3), 67–70.
Whaites, E. (2002). Essentials of radiography and radiology (3rd ed.). Churchill Livingstone.
Whaites, E. (2007). Essentials of dental radiography and radiology (4th ed.). Churchill Livingstone.
White, S. C., & Pharoah, M. J. (2004). Oral radiology: Principles and interpretation (5th ed.). Mosby.
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Diki Septiano (Author)

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.












